Tampilkan postingan dengan label Info Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 Januari 2014
Jumat, 15 Juni 2012
N.A.P.Z.A
TOKSISITAS
NARKOTIK, PSIKOTROPIK, DAN ZAT ADIKTIF LAINNYA (NAPZA)
Penyalahgunaan zat atau
obat dari hari ke hari semakin meningkat, bahkan penyalahguna tidak terbatas
pada orang dewasa tetapi telah menyeret anak-anak. Salah satu dampak penggunaan
NAPZA adalah timbulnya efek ketergantungan yang umumnya dapat berdampak bagi
kesehatan seseorang bahkan dalam kehidupan sosial.
Rabu, 07 Maret 2012
KAFEIN
Kafein
1,3,7-trimetil-1H-purin-2,6(3H,7H0-dion, rumus molekul C8H10N4O2,
merupakan alkaloid ksantin (purin), terutama di temukan dalam daun teh (Camelia sinensis) dan biji kopi (Coffee arabica). Kafein memiliki sifat
fisis seperti berbentuk Kristal dengan warna putih, memiliki titik leleh 234ºC, larut dalam air (15 mg/mL) dan
kloroform serta memiliki rasa yang agak pahit (British Pharmacopeia, 1993).
Kafein
merupakan senyawa alkaloid dari keluarga methylxanthine
yang dapat ditemukan dalam daun, biji ataupun buah dari hampir 63 spesies
tanaman di dunia. Sumber kafein yang paling sering ditemukan adalah kopi, biji
kokoa, kacang kola, dan daun teh (Wanyika et al, 2010).
Tabel 1. Kandungan Kafein dalam Makanan/Minuman
(Purba, 2011)
Produk
|
Kandungan
Kafein
|
Secangkir kopi
Secangkir teh
Sebotol Coca-Cola
Minuman energy
|
85
mg
35
mg
35
mg
50
mg
|
Kafein
merupakan stimulan sistem saraf pusat dan stimulan metabolik yang poten, dan
digunakan untuk bersenang-senang atau untuk menghilangkan kecapekan fisik,
serta untuk mengembalikan kewaspadaan mental. Kafein pertama merangsang sistem
saraf pusat pada level yang tinggi menghasilkan kewaspadaan yang meningkat,
alir pikiran yang lebih jernih dan lebih cepat, konsentrasi yang meningkat, dan
koordinasi tubuh yang lebih baik. Kafein juga digunakan dengan ergotamine dalam
pengobatan migraine dan sakit kepala, dan juga untuk mengatasi rasa kantuk yang
disebabkan oleh antihistamin (Sarker dan L.Nahar, 2009).
Farmakodinamik Kafein
Kafein mempunyai efek relaksasi otot
polos, terutama otot polos bronchus, merangsang susunan saraf pusat, otot jantung, dan
meningkatkan dieresis (Farmakologi UI, 1995).
a. Jantung
Kadar
rendah kafein dalam plasma akan menurunkan denyut jantung, sebaliknya kadar
kafein dan teofilin yang lebih
tinggi menyebabkan tachicardi, bahkan
pada individu yang sensitif mungkin menyebabkan aritmia yang berdampak
kepada kontraksi ventrikel yang premature.
b. Pembuluh darah
Kafein
menyebabkan dilatasi pembuluh darah termasuk pembuluh darah koroner dan
pulmonal, karena efek langsung pada otot pembuluh darah
c. Sirkulasi Otak
Resistensi
pembuluh darah otak naik disertai
pengurangan aliran darah dan O2 di otak, ini diduga
merupakan refleksi adanya blokade adenosineoleh Xantin
d. Susunan Saraf Pusat
Kafein
merupakan perangsang SSP yang kuat. Orang yang mengkonsumsi kafein tidak
terlalu merasa kantuk, tidak terlalu lelah, dan daya pikirnya lebih cepat serta
lebih jernih. Tetapi, kemampuannya berkurang dalam pekerjaan yang memerlukan
koordinasi otot halus (kerapian), ketepatan waktu atau ketepatan berhitung.
Efek diatas timbul pada pemberian kafein 82-250 mg (1-3 cangkir kopi).
e. Diuresis
Kafein
dapat menyebabkan diuresis dengan cara meninggikan produksi urin atau
menghambat reabsorbsi elektrolit ditubulus proksimal. Akan tetapi efek yang
ditimbulkan sangat lemah.
Farmakologi Kafein
Kafein adalah stimulan dari sistem saraf pusat dan
metabolisme, digunakan secara baik untuk pengobatan dalam mengurangi keletihan
fisik dan juga dapat meningkatkan tingkat kewaspadaan sehingga rasa ngantuk
dapat ditekan. Kafein juga merangsang
sistem saraf pusat dengan cara menaikkan tingkat kewaspadaan, sehingga fikiran
lebih jelas dan terfokus dan koordinasi badan menjadi lebih baik (Ware, 1995).
Konsumsi
kafein secara rutin dapat menyebabkan terjadinya toleransi. Tanda-tanda dan
gejala-gejala dari konsumsi kafein secara berlebihan antara lain kecemasan,
insomnia, wajah memerah, dieresis, gangguan saluran cerna, kejang otot,
berbicara bertele-tele, takikardia, aritmia, peningkatan energy dan agitasi psikomotor.
Kafein dapat berinteraksi dengan siprofloksasin dimana mengakibatkan terjadinya
penurunan metabolism hepatic kafein sehingga efek farmakologi kafein dapat
meningkat (Sukandar dkk, 2008).
Farmakokinetik
Kafein
Kafein diabsorpsi secara cepat pada
saluran cerna dan kadar puncak dalam darah dicapai selama 30 hingga 45 menit
(Sukandar dkk, 2008). Pada orang dewasa yang sehat jangka waktu penyerapannya
adalah 3-4 jam, sedangkan pada wanita
yang memakai kontrasepsi oral waktu penyerapan adalah 5-10 jam. Pada bayi dan
anak memiliki jangka waktu penyerapan lebih panjang (30 jam). Kafein dapat
melewati plasenta dan lapisan darah-otak dikarenakan sifatnya yang hidrofobik
(Albina et al, 2002).
Kafein diuraikan dalam hati oleh sistem
enzim sitokhrom P 450 oksidasi
kepada 3 dimethilxanthin metabolik, yaitu :
a. Paraxanthine (84%), mempunyai efek meningkatkan lipolisis,
mendorong pengeluaran gliserol dan asam lemak bebas didalam plasma darah
b. Theobromine (12%), melebarkan pembuluh darah dan
meningkatkan volume urin. Theobromine merupakan alkaloida utama didalam kokoa
(coklat)
c. Theophyline (4%), melonggarkan otot saluran pernafasan,
digunakan pada pengobatan asma.
Hati merupakan tempat utama dalam proses
metabolisme kafein. Masing masing dari hasil metabolisme ini akan dimetabolisme
lebih lanjut dan akan dikeluarkan melalui urin
(Stavric dan Gilbert 1990, Arnaud 1999).
Waktu paruh eliminasi berkisar antara 3
-7 jam dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, meliputi jenis kelamin,
usia, penggunaan kontrasepsi oral, kehamilan dan merokok. Telah dilaporkan
bahwa waktu paruh kafein pada wanita lebih singkat dibandingkan dengan
laki-laki (Nawrot et al, 2003).
Sabtu, 25 Februari 2012
Immunoglobulin
Imunoglobulin atau
antibodi adalah sekelompok glikoprotein yang terdapat dalam serum atau cairan
tubuh pada hampir semua mamalia. Imunoglobulin termasuk dalam famili
glikoprotein yang mempunyai struktur dasar sama, terdiri dari 82-96%
polipeptida dan 4-18% karbohidrat. Komponen polipeptida membawa sifat biologik
molekul antibodi tersebut. Molekul antibodi mempunyai dua fungsi yaitu mengikat
antigen secara spesifik dan memulai reaksi fiksasi komplemen serta pelepasan
histamin dari sel mast. Pada manusia dikenal 5 kelas imunoglobulin. Tiap kelas
mempunyai perbedaan sifat fisik, tetapi pada semua kelas terdapat tempat ikatan
antigen spesifik dan aktivitas biologik berlainan.
Struktur dasar imunoglobulin
terdiri atas 2 macam rantai polipeptida yang tersusun dari rangkaian asam amino
yang dikenal sebagai rantai H (rantai berat) dengan berat molekul 55.000 dan
rantai L (rantai ringan) dengan berat molekul 22.000. Tiap rantai dasar
imunoglobulin (satu unit) terdiri dari 2 rantai H dan 2 rantai L. Kedua rantai
ini diikat oleh suatu ikatan disulfida sedemikian rupa sehingga membentuk
struktur yang simetris. Yang menarik dari susunan imunoglobulin ini adalah
penyusunan daerah simetris rangkaian asam amino yang dikenal sebagai daerah domain,
yaitu bagian dari rantai H atau rantai L, yang terdiri dari hampir 110
asam amino yang diapit oleh ikatan disulfid interchain, sedangkan ikatan
antara 2 rantai dihubungkan oleh ikatan disulfid interchain.
Rantai-L (Light Chain)
Dengan
pemeriksaan Bence-Jones menggunakan air kemih penderita
Myeloma, ditemukan 2 macam rantai-L, yaitu rantai-κ (Kappa) dan
rantai-λ (Labda). Pengklasifikasian tersebut dibuat berdasarkan
perbedaan asam amino di daerah tetapnya. Kedua jenis ini terdapat pada semua
kelas Imunoglobulin, tetapi tiap molekul Imunoglobulin hanya mengandung satu
jenis rantai-L saja. Bagian ujung amino pada tiap rantai-L berisi bagian tempat
pengikatan antigen.
Rantai-H (Heavy Chain)
Rantai Berat merupakan dasar pengklasifikasian
kelas Imunoglobulin. Bagian ujung amino tiap rantai-H ikut serta dalam tempat
pengikatan antigen, ujung lainnya (karboksi) membentuk fragmen Fc,
yang mempunyai berbagai aktivitas biologik.
Sabtu, 18 Februari 2012
Fanconi Syndrome
Fanconi
syndrome is a disorder of the kidney tubes in which certain substances normally
absorbed into the bloodstream by the kidneys are released into the urine
instead.
Causes
Fanconi
syndrome can be caused by faulty genes, or it may result later in life due to
kidney damage. Sometimes the cause of Fanconi syndrome is unknown.
Common
causes of Fanconi syndrome in children are genetic defects that affect the
body's ability to break down certain compounds such as:
- Cystine (cystinosis)
- Fructose (fructose intolerance)
- Galactose (galactosemia)
- Glycogen (glycogen storage disease)
Cystinosis
is the most common cause of Fanconi syndrome in children.
Other
causes in children include:
- Exposure to heavy metals such as lead, mercury, or cadmium
- Lowe's disease, a rare genetic disorder of the eyes, brain, and kidneys
- Wilson's disease
In
adults, Fanconi syndrome can be caused by various things that damage the
kidneys, including:
- Certain medications, including azathioprine, cidofovir, gentamicin, and tetracycline
- Kidney transplant
- Light chain deposition disease
- Multiple myeloma
- Primary amyloidosis
Symptoms
- Passing large amounts of urine, which can lead to dehydration
- Bone pain
- Weakness
Exams and Tests
Laboratory
tests may show that too much of the following substances may be lost in the
urine:
- Amino acids
- Bicarbonate
- Glucose
- Magnesium
- Phosphate
- Potassium
- Sodium
- Uric acid
Loss
of these substances can lead to a variety of problems. Further tests and a
physical exam may show signs of:
- Dehydration due to excess urination
- Growth failure
- Osteomalacia
- Rickets
- Type 2 renal tubular acidosis
Treatment
Many
different diseases can cause Fanconi syndrome. The underlying cause and its
symptoms should be treated as appropriate.
Outlook (Prognosis)
The
prognosis depends on the underlying disease.
When to Contact a Medical Professional
Call
your health care provider if you have dehydration or muscle weakness.
Alternative Names
De
Toni-Fanconi syndrome
References
Seifter
JL. Potassium disorders. In: Goldman L, Ausiello D, eds. Cecil Medicine.
23rd ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2007:chap 118.
Langganan:
Postingan (Atom)

