Tampilkan postingan dengan label Info Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juni 2012

N.A.P.Z.A


TOKSISITAS NARKOTIK, PSIKOTROPIK, DAN ZAT ADIKTIF LAINNYA (NAPZA)
Penyalahgunaan zat atau obat dari hari ke hari semakin meningkat, bahkan penyalahguna tidak terbatas pada orang dewasa tetapi telah menyeret anak-anak. Salah satu dampak penggunaan NAPZA adalah timbulnya efek ketergantungan yang umumnya dapat berdampak bagi kesehatan seseorang bahkan dalam kehidupan sosial.

Rabu, 07 Maret 2012

KAFEIN


Kafein 1,3,7-trimetil-1H-purin-2,6(3H,7H0-dion, rumus molekul C8H10N4O2, merupakan alkaloid ksantin (purin), terutama di temukan dalam daun teh (Camelia sinensis) dan biji kopi (Coffee arabica). Kafein memiliki sifat fisis seperti berbentuk Kristal dengan warna putih, memiliki titik leleh 234ºC, larut dalam air (15 mg/mL) dan kloroform serta memiliki rasa yang agak pahit (British Pharmacopeia, 1993).
Kafein merupakan senyawa alkaloid dari keluarga methylxanthine yang dapat ditemukan dalam daun, biji ataupun buah dari hampir 63 spesies tanaman di dunia. Sumber kafein yang paling sering ditemukan adalah kopi, biji kokoa, kacang kola, dan daun teh (Wanyika et al, 2010).
      Tabel 1. Kandungan Kafein dalam Makanan/Minuman (Purba, 2011)
Produk
Kandungan Kafein
Secangkir kopi
Secangkir teh
Sebotol Coca-Cola
Minuman energy
85 mg
35 mg
35 mg
50 mg


Kafein merupakan stimulan sistem saraf pusat dan stimulan metabolik yang poten, dan digunakan untuk bersenang-senang atau untuk menghilangkan kecapekan fisik, serta untuk mengembalikan kewaspadaan mental. Kafein pertama merangsang sistem saraf pusat pada level yang tinggi menghasilkan kewaspadaan yang meningkat, alir pikiran yang lebih jernih dan lebih cepat, konsentrasi yang meningkat, dan koordinasi tubuh yang lebih baik. Kafein juga digunakan dengan ergotamine dalam pengobatan migraine dan sakit kepala, dan juga untuk mengatasi rasa kantuk yang disebabkan oleh antihistamin (Sarker dan L.Nahar, 2009).


Farmakodinamik Kafein
Kafein mempunyai efek relaksasi otot polos, terutama otot polos bronchus, merangsang  susunan saraf pusat, otot jantung, dan meningkatkan dieresis (Farmakologi UI, 1995).
a. Jantung
Kadar rendah kafein dalam plasma akan menurunkan denyut jantung, sebaliknya kadar kafein  dan teofilin yang lebih tinggi menyebabkan tachicardi, bahkan  pada individu yang sensitif mungkin menyebabkan aritmia yang berdampak kepada kontraksi ventrikel yang premature.
b. Pembuluh darah
Kafein menyebabkan dilatasi pembuluh darah termasuk pembuluh darah koroner dan pulmonal, karena efek langsung pada otot pembuluh darah
c. Sirkulasi Otak
Resistensi pembuluh darah otak naik disertai  pengurangan aliran darah dan O2 di  otak, ini diduga merupakan refleksi adanya blokade adenosineoleh Xantin
d. Susunan Saraf Pusat
Kafein merupakan perangsang SSP yang kuat. Orang yang mengkonsumsi kafein tidak terlalu merasa kantuk, tidak terlalu lelah, dan daya pikirnya lebih cepat serta lebih jernih. Tetapi, kemampuannya berkurang dalam pekerjaan yang memerlukan koordinasi otot halus (kerapian), ketepatan waktu atau ketepatan berhitung. Efek diatas timbul pada pemberian kafein 82-250 mg (1-3 cangkir kopi).
e. Diuresis
Kafein dapat menyebabkan diuresis dengan cara meninggikan produksi urin atau menghambat reabsorbsi elektrolit ditubulus proksimal. Akan tetapi efek yang ditimbulkan sangat lemah.

Farmakologi Kafein
            Kafein adalah stimulan dari sistem saraf pusat dan metabolisme, digunakan secara baik untuk pengobatan dalam mengurangi keletihan fisik dan juga dapat meningkatkan tingkat kewaspadaan sehingga rasa ngantuk dapat ditekan. Kafein juga  merangsang sistem saraf pusat dengan cara menaikkan tingkat kewaspadaan, sehingga fikiran lebih jelas dan terfokus dan koordinasi badan menjadi lebih baik  (Ware, 1995).
Konsumsi kafein secara rutin dapat menyebabkan terjadinya toleransi. Tanda-tanda dan gejala-gejala dari konsumsi kafein secara berlebihan antara lain kecemasan, insomnia, wajah memerah, dieresis, gangguan saluran cerna, kejang otot, berbicara bertele-tele, takikardia, aritmia, peningkatan energy dan agitasi psikomotor. Kafein dapat berinteraksi dengan siprofloksasin dimana mengakibatkan terjadinya penurunan metabolism hepatic kafein sehingga efek farmakologi kafein dapat meningkat (Sukandar dkk, 2008).

Farmakokinetik Kafein
Kafein diabsorpsi secara cepat pada saluran cerna dan kadar puncak dalam darah dicapai selama 30 hingga 45 menit (Sukandar dkk, 2008). Pada orang dewasa yang sehat jangka waktu penyerapannya adalah 3-4 jam,  sedangkan pada wanita yang memakai kontrasepsi oral waktu penyerapan adalah 5-10 jam. Pada bayi dan anak memiliki jangka waktu penyerapan lebih panjang (30 jam). Kafein dapat melewati plasenta dan lapisan darah-otak dikarenakan sifatnya yang hidrofobik (Albina et al, 2002).
Kafein diuraikan dalam hati oleh sistem enzim sitokhrom P 450 oksidasi 
kepada 3 dimethilxanthin metabolik, yaitu :
a. Paraxanthine (84%), mempunyai efek meningkatkan lipolisis, mendorong pengeluaran gliserol dan asam lemak bebas didalam plasma darah
b. Theobromine (12%), melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan volume urin. Theobromine merupakan alkaloida utama didalam kokoa (coklat)
c. Theophyline (4%), melonggarkan otot saluran pernafasan, digunakan pada pengobatan asma.
Hati merupakan tempat utama dalam proses metabolisme kafein. Masing masing dari hasil metabolisme ini akan dimetabolisme lebih lanjut dan akan dikeluarkan melalui urin  (Stavric dan Gilbert 1990, Arnaud 1999).
Waktu paruh eliminasi berkisar antara 3 -7 jam dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, meliputi jenis kelamin, usia, penggunaan kontrasepsi oral, kehamilan dan merokok. Telah dilaporkan bahwa waktu paruh kafein pada wanita lebih singkat dibandingkan dengan laki-laki (Nawrot et al, 2003).

Sabtu, 25 Februari 2012

Immunoglobulin


Imunoglobulin atau antibodi adalah sekelompok glikoprotein yang terdapat dalam serum atau cairan tubuh pada hampir semua mamalia. Imunoglobulin termasuk dalam famili glikoprotein yang mempunyai struktur dasar sama, terdiri dari 82-96% polipeptida dan 4-18% karbohidrat. Komponen polipeptida membawa sifat biologik molekul antibodi tersebut. Molekul antibodi mempunyai dua fungsi yaitu mengikat antigen secara spesifik dan memulai reaksi fiksasi komplemen serta pelepasan histamin dari sel mast. Pada manusia dikenal 5 kelas imunoglobulin. Tiap kelas mempunyai perbedaan sifat fisik, tetapi pada semua kelas terdapat tempat ikatan antigen spesifik dan aktivitas biologik berlainan.

Struktur dasar imunoglobulin terdiri atas 2 macam rantai polipeptida yang tersusun dari rangkaian asam amino yang dikenal sebagai rantai H (rantai berat) dengan berat molekul 55.000 dan rantai L (rantai ringan) dengan berat molekul 22.000. Tiap rantai dasar imunoglobulin (satu unit) terdiri dari 2 rantai H dan 2 rantai L. Kedua rantai ini diikat oleh suatu ikatan disulfida sedemikian rupa sehingga membentuk struktur yang simetris. Yang menarik dari susunan imunoglobulin ini adalah penyusunan daerah simetris rangkaian asam amino yang dikenal sebagai daerah domain, yaitu bagian dari rantai H atau rantai L, yang terdiri dari hampir 110 asam amino yang diapit oleh ikatan disulfid interchain, sedangkan ikatan antara 2 rantai dihubungkan oleh ikatan disulfid interchain.

Rantai-L (Light Chain)
Dengan pemeriksaan Bence-Jones menggunakan air kemih penderita Myeloma, ditemukan 2 macam rantai-L, yaitu rantai-κ (Kappa) dan rantai-λ (Labda). Pengklasifikasian tersebut dibuat berdasarkan perbedaan asam amino di daerah tetapnya. Kedua jenis ini terdapat pada semua kelas Imunoglobulin, tetapi tiap molekul Imunoglobulin hanya mengandung satu jenis rantai-L saja. Bagian ujung amino pada tiap rantai-L berisi bagian tempat pengikatan antigen.

Rantai-H (Heavy Chain)
Rantai Berat merupakan dasar pengklasifikasian kelas Imunoglobulin. Bagian ujung amino tiap rantai-H ikut serta dalam tempat pengikatan antigen, ujung lainnya (karboksi) membentuk fragmen Fc, yang mempunyai berbagai aktivitas biologik.
 

Sabtu, 18 Februari 2012

Fanconi Syndrome


Fanconi syndrome is a disorder of the kidney tubes in which certain substances normally absorbed into the bloodstream by the kidneys are released into the urine instead.
Causes
Fanconi syndrome can be caused by faulty genes, or it may result later in life due to kidney damage. Sometimes the cause of Fanconi syndrome is unknown.
Common causes of Fanconi syndrome in children are genetic defects that affect the body's ability to break down certain compounds such as:
Cystinosis is the most common cause of Fanconi syndrome in children.
Other causes in children include:
  • Exposure to heavy metals such as lead, mercury, or cadmium
  • Lowe's disease, a rare genetic disorder of the eyes, brain, and kidneys
  • Wilson's disease
In adults, Fanconi syndrome can be caused by various things that damage the kidneys, including:

Symptoms
  • Passing large amounts of urine, which can lead to dehydration
  • Bone pain
  • Weakness

Exams and Tests
Laboratory tests may show that too much of the following substances may be lost in the urine:
Loss of these substances can lead to a variety of problems. Further tests and a physical exam may show signs of:

Treatment
Many different diseases can cause Fanconi syndrome. The underlying cause and its symptoms should be treated as appropriate.
Outlook (Prognosis)
The prognosis depends on the underlying disease.
When to Contact a Medical Professional
Call your health care provider if you have dehydration or muscle weakness.
Alternative Names
De Toni-Fanconi syndrome
References
Seifter JL. Potassium disorders. In: Goldman L, Ausiello D, eds. Cecil Medicine. 23rd ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2007:chap 118.